Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Zona.my.id PT Zona Nyaman Indonesia GET
Example floating
Example floating
BerauBeritaKaltim

Kejaksaan Catat 19 Kasus Kekerasan Seksual dan Perlindungan Anak, Mayoritas Korbannya Anak Putus Sekolah

ZonaTV
104
×

Kejaksaan Catat 19 Kasus Kekerasan Seksual dan Perlindungan Anak, Mayoritas Korbannya Anak Putus Sekolah

Sebarkan artikel ini

Pemkab Diminta Partisipasi Untuk Membuat BLK

Example 468x60

Tanjung Redeb – Kejaksaan Negeri Berau mencatat sedikitnya ada 19 kasus kekerasan seksual dan perlindungan anak, sejak Januari hingga Agustus 2023.

Jumlah tersebut, dikhawatirkan akan melampaui total kasus yang terjadi di tahun 2022, yang mencapai 29 kasus.

Kasi Pidum Ito Azis Wasitomo mengatakan, kasus terparah di tahun ini, baru saja terjadi.

Dimana, abang kandung tega menyetubui adiknya yang masih berusia 15 tahun. Ironisnya, peristiwa itu terjadi di rumah mereka.

Sementara itu, korban terparah pada saat ini adalah rata-rata umur dibawah 18 tahun dan kekerasan seksual itu ada anak-anak yang sudah dewasa.

”Ini karena kurangnya pengawasan orang tua,” ujarnya.

Lebih lanjut, tidak sedikit pelakunya merupakan orang terdekat. Mulai dari Kakek kandung, Bapak hingga ke abang kandung korban.

“Kepada mereka yang memiliki kedekatan kekeluargaan dipastikan akan mendapat hukuman penjara di atas 10 tahun,” ungkapnya.

Pihaknya mengaku telah mengusulakan program balai latihan kerja dan posko pengaduan untuk peduli terhadap kasus-kasus kekerasan seksual pada anak dan perlindungan anak yang marak terjadi pada tahun ini.

”Kami juga mendorong pemda untuk konsen juga peduli pada kasus-kasus kekerasan,” ucapnya.

Ia mengatakan, sejauh ini belum ada tanggapan dan informasi lebih lanjut terkait dari program-program yang di usulkan ke Pemda.

”Sejauh ini proposal yang kami ajukan belum ada informasi lagi, katanya sih mau di suport juga,” katanya.

Ia menjelaskan, balai latihan kerja sudah dijelaskan di undang-undang dan hukuman untuk anak salah satunya adalah, menempatkan anak pada balai latihan kerja.

”Semacam pelatihan kerja,” tegasnya.

Ia mengatakan, para pelaku ini yang nantinya akan di bina dan korban pun juga akan dibina, karena sementara ini lebih pada swasta yayasan yang mengelola.

”UPT PPAnya ada tapi semacam belum ada sinergitas ketika, korban anak seperti apa. Kadang malah anak-anak itu malu makanya dia pindah sekolah atau berhenti sekolah,” bebernya.

Ia menjelaskan, korban-korban kejadian ini biasanya mereka adalah anak-anak putus sekolah. Ia berharap karena dana APBD besar dan di tambah lagi tahun depan apalagi tambah besar, memungkikan untuk tidak lagi banyak anak-anak yang putus sekolah.

”Masa masih ada anak gak sekolahkan lucu gitu. Nah itu yang kita kejar terus,” jelasnya.

Ito Azis mengatakan akan mencari psikolog di Pemda untuk menjadi konsultasi coching selama 1 minggu dua kali ataupun psikolog yang sedang frelance tinggal bagaimana menyesuaikan nantinya.

”Nah kita mau mau cari psikolog di pemda ada gak yah kita mau cari yang frelance untuk hari hari tertentu. Untuk konsul atau cochcing,” tegasnya. (*/SRK/FST)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan