Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Zona.my.id PT Zona Nyaman Indonesia GET
Example floating
Example floating
BerauBerita

Berlaku Tak Sopan pada Sultan Sambaliung, Seorang Pemuda Dikenai Denda Adat

ZonaTV
624
×

Berlaku Tak Sopan pada Sultan Sambaliung, Seorang Pemuda Dikenai Denda Adat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Tanjung Redeb – Seorang pemuda di Berau, Parto (bukan nama sebenarnya, Red) dikenai denda adat oleh Kesultanan Sambaliung. Pasalnya, Patro dinilai telah mengeluarkan kata-kata kasar dan tindakan yang tak sopan pada Sultan Sambaliung, Senin (18/9) sekitar pukul 15.00 Wita.

Sultan Sambaliung Datu Amir saat ditemui media ini di kediamannya, Rabu (20/9), menjelaskan permasalahan antara dirinya dan Patro terjadi saat dirinya hendak berangkat ke Tanjung dari Sambaliung. Ketika tiba di sekitar SPBU Sambaliung, pemuda tersebut melintang atau menutup jalan mobil kesultanan.

Atas tindakan pemuda itu, pengemudi mobil sultan lalu membunyikan klakson. Karena tidak menerima bunyi klakson sang sopir, pemuda itu membuka kaca jendela mobilnya lalu mulai mengeluarkan kata-kata kasar. Adu mulut pun berlanjut, setelah mobil ditepikan.

“Saya sampaikan ke dia jangan kau marah-marah. Jangan kau begitu. Saya ini sultan, orangtuamu di sini. Walaupun kau suku apapun itu, kalau sudah tinggal di Berau, kau itu tetap anakku,” jelasnya.

Menanggapi nasihat Datu Amir, pemuda itu bukannya mengalah tapi malah sebaliknya semakin mengeluarkan kata-kata yang dinilai sultan sangat merendahkan. Sultan bahkan sudah melarangnya supaya tetap menghormati orang tua.

“Tapi jawabannya (Parto, red), saya tidak mau tahu kalau yang bicara dengan saya sultan dan juga orang tua. Itu kan merendahkan sekali. Pokoknya dia sinis lagi. Berarti aku sudah di bawah sama sekali. Diinjak-injaknya,” terangnya.

Atas sikap pemuda itu, anak sultan lalu datang ke tempat kejadian karena tidak menerima ayahnya direndahkan. Perkelahian antara Parto dan anak sultan terjadi. Situasi memanas. Banyak warga turut kebakaran jenggot.

“Tapi saya sebagai sultan harus bijak. Sudah. Lalu dia ke Sukan. Saya suruh jemput dan selesaikan di Polsek Sambaliung. Lalu ke keraton untuk dilanjutkan dengan pembicaraan tentang sanksi adat,” imbuhnya.

Walaupun warga masyarakat Sambaliung yang berpihak pada sultan tidak menerima kata maaf itu, Datu Amir berusaha untuk menenangkan massa dan tidak mau masalah itu meluas ke perang suku, agama, dan sebagainya.

“Sebagai sultan saya harus bijak. Kalau saya tidak bijak dia sudah dipukul massa. Saya juga sudah maafkan dia. Saya pegang-pegang kepalanya. Tapi dia tetap denda. Kalau dulu kami sudah potong kepala. Karena zamannya sudah berubah, istilahnya kami tukar nyawa dengan kambing dan Mandau,” bebernya.

Peristiwa itu bagi Datu Amir, perlu menjadi pelajaran bagi masyarakat khususnya kaum muda. Kepada orang muda, sultan meminta agar mulai bersikap sopan dengan orang yang lebih tua sejak dini, di manapun kaum muda itu berada. Termasuk, tidak menjadikan perbedaan suku, agama, ras, dan golongan sebagai ladang konflik.

“Saya itu paling tidak suka ribut antar suku. Tidak boleh. Semua suku itu baik. Tidak ada yang jelek. Kalau ada yang jelek itu orang tertentu saja. Agama juga sama. Tidak ada yang jelek. Semua baik. Tidak ada agama yang mau umatnya itu mencuri, membunuh, dan sebagainya,” paparnya.

Untuk diketahui, Parto sesuai tayangan video berdurasi 01.19 menit yang diperoleh media ini juga sudah mengakui kesalahannya di hadapan Datu Amir. Permohonan maaf itu disampaikannya di hadapan Datu Amir dan beberapa pihak yang hadir, di Polsek Sambaliung, Senin (18/9). (*/TNW/FST)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan